Welcome to our website !

The Power of Blogger Curhat

By Maret 08, 2017 ,




The Power of Blogger Curhat


Setahun setelah ngeblog di Keluarga Biru, saya mulai merasakan kejenuhan. Jenuh menulis dan membaca blog yang mayoritas berisi tentang travelling dan kuliner. Kebetulan dua tema itu sering saya tulis dan baca. Sebagai penulis saya merasa jenuh karena menulis tema travelling dan kuliner itu memang tidak mudah bagi saya, untuk travelling harus menulis berdasarkan kenyataan dan pengalaman sendiri sementara dompet tidak mendukung untuk travelling terus-menerus. Pun kalau sehabis travelling, seringnya menunda-nunda untuk menulis karena berbagai alasan mulai dari masih capek hingga kesibukan di kantor.

Menulis kuliner juga kurang lebih sama kendalanya. Saya masih kesusahan mendeskripsikan makanan dengan menarik, tidak hanya sekedar menulis tapi mampu membuat pembaca seperti ikut merasakan rasa makanan yang kita tulis. Lalu juga pengetahuan saya tentang nama-nama bumbu atau jenis makanan masih minim, untung ada Mama Ivon yang bisa saya tanya-tanyain.
Menulis tema travelling dan kuliner itu memakan waktu yang banyak bukan di proses menulisnya saja namun juga editing foto. Nggak afdol rasanya jika menulis tentang suatu tempat atau makanan namun tidak ada foto-fotonya, nanti dituduh HOAX. Sudahlah menulis dengan penuh perjuangan, terkadang yang membaca hanya sedikit. Atau kalau komen juga standart, biasanya sih berasal dari spammer yang ngiklan link doang.

“Wah seru sekali, moga kapan-kapan bisa ke sana juga.”
“Lezaat bingiiit, jadi pengin nyobain.”

Awalnya sih agak baper tapi saya buru-buru introspeksi diri, mungkin tulisan saya memang kurang menarik. Trus saya pun kadang juga melakukan hal yang sama kalau pas lagi jenuh namun harus tetap komen sebagai komitmen dan dukungan pada sesame blogger, pisss. 

Saya jadi merindukan tulisan berupa cerita keseharian bahkan curhat seperti di MP dulu. Lewat tulisan-tulisan tersebut saya jadi bisa lebih mengenal teman blogger saya. Tak heran jika di MP dulu persahabatan sesama blogger sudah seperti keluarga bahkan ada yang sampai cinlok hingga berujung di pelaminan. *angkat tangan tinggi-tinggi

Dunia blog berkembang sesuai tuntutan zaman. Kini posisi blog telah naik level menjadi media promosi bagi brand-brand sehingga para blogger pun berusaha mengisi blognya dengan konten-konten yang menarik dan paling banyak diminati seperti travelling, kuliner, beauty dan lifestyle. Blog dengan niche tertentu memang lebih menarik baik itu di mata brand maupun google. Saya termasuk blogger yang memilih untuk konsen menulis dengan niche tertentu.
Tapi saya butuh media juga buat nulis hal remeh-temeh, cerita keseharian bahkan curhat seperti di MP dulu. Saya nggak mungkin menulisnya di blog Keluarga Biru yang jelas-jelas niche-nya Parenting-Travelling dan Kuliner. Itulah sebabnya saya kemudian membuat blog personal dimana saya bebas menulis apa saja.

Nah beberapa hari ini saya mendapatkan inspirasi bahkan merasa tertampar setelah membaca tulisan teman-teman blogger yang biasa menulis tentang keseharian mereka. Tulisan pertama milik Mbak Grace Melia atau akrab dipanggil Mami Gesi yang berjudul: Dear Special Needs Moms, Jangan Menyerah.

Dalam tulisannya itu Mami Gesi menceritakan tentang bagaimana jatuh bangun yang dialaminya dalam merawat putri tercintanya Ubii yang berkebutuhan khusus. Banyak banget point yang dia tuliskan, semakin saya membaca ke bawah saya semakin tertampar dan jadi malu sendiri.
Ini saya copy-kan salah satu point yang bikin saya ketampar:

Saya tahu bagaimana frustrasinya melihat teman-teman kita yang lain dikaruniai anak yang sehat dan lucu sedangkan anak kita terlihat berbeda, entah dari rupanya, gerak-geriknya, atau perkembangannya. Tak tertahankan ada satu pertanyaan yang muncul berulang kali, "Apa dosaku, Gusti? Kenapa aku? Kenapa anakku?" I've been there.

Kenapa saya merasa ketampar? Karena belakangan ini saya sering mengajukan pertanyaan yang sama pada Allah. Padahal apa yang saya hadapi nggak ada seujung kuku dari apa yang dialami oleh Mami Gesi dan special needs Moms lainnya. Yaitu tingkah laku Aiman yang semakin aktif dan semaunya saja trus juga kebiasaan Aiman dan Baby Aira yang tidur larut malam hingga jam 12 malam. Gara-gara harus begadang ngemong mereka hampir setiap hari, saya sampai kecapekan sehingga tensi saya anjlok 100/60.

Jujur saja, saya sampai ngeluh sama mereka.
“Oalah Aim, kamu tuh kenapa sih nggak bisa duduk diam gitu. Mondar-mandir kayak layangan, Bapak pusing liatnya.”
“Oalah Nduk, kenapa sih kamu itu tidurnya malem-malem. Mbok kayak bayi-bayi lainnya, yang tidur sore jam 8 trus bangunnya besok pagi.”

Malahan saya sampai mbatin pada Gusti Allah jika Mas Aiman tingkahnya sudah keterlaluan: “Apa dosa saya kok Aim kayak gitu. Apa mungkin karena dulu saya suka sebal kalau liat anak laki-laki yang nakal dan nggak bisa diam. Maka sekarang saya dapat karma memiliki anak yang seperti itu.”
Setelah membaca tulisan Mbak Gesi itu saya pun mencoba introspeksi. Seharusnya saya tetap bersyukur bahwa Duo Ai itu lahir sempurna, tidak kurang suatu apapun dan tumbuh sehat hingga sekarang. Meskipun mereka suka begadang namun tetap aktif, kalau sakit juga sebatas panas, batuk, pilek.
Sebenarnya sih selama ini saya dan Mama Ivon sudah berusaha mengatasi ‘masalah’ yang dialami Duo Ai: Aiman kami ikutkan terapi untuk membuat dia lebih fokus dan mengarahkan keaktifannya. Tapi saying dengan beberapa alasan kami terpaksa menghentikan terapi tersebut. Lalu untuk Baby Aira kami masih belum tahu bagaimana cara membuatnya tidur lebih sore.


Lalu tulisan yang kedua adalah milik Mbak Arni yang berjudul: Berbagi Tanpa Batas, Menolong Tanpa Sekat, Bersama Sekolah Relawan

Dalam tulisan di atas, Mbak Arni bercerita tentang ulang tahun putra tersayang yaitu Prema yang dirayakan dengan berbagi dengan orang-orang yang kurang beruntung. Mereka memberikan makan gratis kepada mereka. Nah di antaranya ada anak-anak yatim yang sepulang sekolah berjual tissue. Ada dialog yang membuat hati siapa saja mencelos membacanya:

“Bu, saya sudah sering makan tempe.  Mau minta ayamnya 2 boleh gak. Saya belum pernah makan ayam goreng…,”

Saya tahu bahwa di luar sana ada orang-orang kurang beruntung yang ditakdirkan menjalani kehidupan yang keras. Membaca kisah dalam tulisan Mbak Arni membuat mata saya makin terbuka dan lebih bersyukur dengan keadaan saya.

Trus saya jadi teringat apa yang keluarga kami alami pada akhir bulan kemarin. Hari itu saya lembur sampai jam 10 malam. Ketika menjelang pulang, Mama Ivon wasap minta dibelikan kue terang bulan untuk Aiman dan nasi goring buatnya. Saya pun menyanggupinya. Nah ketika saya melihat ke saku celana dan baju, ternyata hanya ada uang sebesar Rp.18.000, jangan tanya berapa yang tersisa di dompet. Di sana hanya ada kartu dan bon-bon yang lupa saya buang.
Dalam perjalanan pulang saya mampir ke ATM, berharap masih ada yang yang bisa saya ambil. Ketika saya cek di ATM 1 saldo tinggal 40ribu sekian, trus gentian ke ATM 2 ternyata sebelas dua belas. Oalah andaikan jumlah uang di kedua ATM itu bisa digabung pasti saya bisa ambil uang setidaknya 50ribu. Dengan hati sedikit nelangsa saya pun wasap Mama Ivon:
“Ma, uangku tinggal 18ribu. Trus tadi cek 2 ATM saldonya mepet nggak bisa ditarik. Jadi aku beliin terang bulan buat Aim saja ya. Nasi gorengnya beli pakai uang Mama di rumah.”
Mama Ivon nggak membalas, mungkin dia masih sibuk ngemong Dua Ai. Saya yakin dia pasti juga memilih untuk belikan Aim terang bulan.

Pas balik dari ATM saya tak sengaja melihat ke spidometer motor, weks bensin menipisss. Saya jadi bimbang antara mau beli terang bulan atau bensin. Kalau saya beli bensin jadi nggak bisa beliin Aiman terang bulan, kasian dia tadi sudah dijanjiin. Bismilllah, akhirnya saya putuskan untuk beli terang bulan saja. Saya yakin bensinnya masih cukup untuk perjalanan sampai ke rumah.
Di sepanjang perjalanan hati ini jadi baper juga, kok keuangan kami sampai kayak gini banget ya. Mau beliin nasi goreng dan terang bulang buat anak istri sampai harus memilih salah satu, bahkan nekat pulang jam 10 malam dengan keadaan motor yang mepet bensinnya. Alhamdulillah saya bisa sampai di rumah dengan bensin mepet tersebut, Mas Aiman senang bisa makan terang bulan dan Mama Ivon nggak marah meski nggak jadi makan nasi goreng.

Kejadian di atas jika dibandingin dengan kerasnya hidup yang dijalani anak-anak dalam tulisan Mbak Arni jelas nggak ada apa-apanya. Saya nggak setiap akhir bulan kehabisan uang kok, kalau job dari blog lagi lancar pasti bisa beliin nasi goreng dan terang bulan 10 bungkus wahahaha. Trus masih ada gaji bulan depan yang menjadi harapan. Sedangkan anak-anak itu?


So buat kalian teman-teman blogger, tetaplah menulis cerita keseharian kalian bahkan walaupun itu curhat sekalipun. Kalian tidak tahu bahwa tulisan kalian bisa memberikan inspirasi dan kekuatan bagi pembaca yang mengalami hal serupa,  bahkan pengingat bagi pembaca yang merasa hidupnya paling menderita sedunia. Tak usah minder dengan julukan Blogger Curhat. Mengutip pesan Priyo tentang julukan atau cap blogger yang belakangan lagi marak: Its not define you, its define him/her.


You Might Also Like

19 komentar

  1. Aira kayanya pola tidurnya yang harus diubah...aku dulu gitu sih, soalnya anakku dulu tiga balita semua. kalau salah satu melekan bisa kacau semuanya.
    biasanya kalau sehari tidur dua kali untuk hari itu dibuat sekali biar malamnya cepat ngantuk...besoknya biasanya polanya sudah berubah...

    BalasHapus
  2. Inspiring mas. Btw, ini bukan komen basa basi lho. Saya baca dr awal smpe akhir kok. :)

    BalasHapus
  3. That why saya bikin blog lagi khusus curhat soalnya buat katarsis di saat jenuh mau nulis apaan. Makasih idenya, mas

    BalasHapus
  4. Ah, baca tulisan mas Ihwan jadi pengen curhat lagi, btw aku juga pernah berangkat ke kantor blas ngga sangu yg penting bensin penuh,eh nyampe kantor dapet honor lumayan. Semoga kita slalu bersyukur dalam keadaan apapun ya mas Ihwan.

    BalasHapus
  5. Mau curhat tapi malu bang Ihwan.. he he he

    BalasHapus
  6. Walah gak nyangka tulisanku malah menginspirasi dirimu nulis ini. Aku justru suka lho baca tulisan curhat, berasa lebih kena dihati dibanding yang sekedar muji2 brand, tempat wisata atau kuliner. Meski nulis dengan tema traveling atau kuliner sebisa mungkin masukkan pengalaman pribadi disana, biar lebih enak.

    Soal Aiman dan Aira, aku jujur gak tau gimana keseharian mereka sampai papa mamanya puyeng, tapi bukankah punya anak aktif adalah impian setiap orang tua? Tinggal mengarahkan saja. Ini ya Prema, kurang gimana coba sampai kakek neneknya, guru2nya semua bilang kelakuan dia "ajaib" saking gak biaa diamnya, ya wis saya senyum aja sambil bilangin baik2 ke Prema dan berusaha nyari kegiatan positif untuk menyalurkan energinya.

    Salah satunya ya FFC kemaren itu. FYi, salah satu yang bikin dia senang ikutan ya karena dia merasa "berguna" dalam arti dibolehin bantu ini itu. Bebas lari sana sini disepanjang trotoar ditengah jalanan yang super macet dan rame. Dalam kondiai normal, itu gak mungkin, gak bakal ada ceritanya kami melepas dia jalan sendirian di trotoar kek gitu. Ada juga tangannya digandeng erat atau ya diem dalam mobil. Dia mendapat kebebasan, kami mengingatkan tentang tanggung jawab pada diri sendiri, dan dia lakukan. Ternyata itu jadi semacam "kebanggaan" lho buat dia. Pulangnya cuapek, tidur deh hehe.
    Mungkin bisa jadi contoh buat ngasi kegiatan ke Aim, cari aktivitas fisik yang pas, agar energinya tersalurkan

    Ups maaf kepanjangan hihi

    BalasHapus
  7. Aku juga jarang nulis curhatan. Sejak fokus di AE, malah gak pernah nulis. Sesekali di babyae, itu pun singkat.Kangen juga pingin curhat-curhat di blog, ben gak curhat nang kamu tok. :p

    BalasHapus
  8. Tulisan curhat dikemas dlm bentuk tips dan pengalaman disertai solusi kayaknya apik mas Ihwan, jadi gak sekedar curhat tapi bisa kasih masukan ke yg sedang mbaca dan mengalami hal yg sama.

    BalasHapus
  9. Bikin mp ala2 qt sendiri ya 😊

    BalasHapus
  10. Wah.. Ini insnpirasi buat saya yang sebagian besar tulisan blog berisi curhat. Tapi kayaknya memang harus belajar lebih banyak lagi, agar meskipun curhat bisa bermanfaat lebih-lebih menginspirasi. :D

    Terimakasih sharingnya, Mas..

    Salam hangat dari Bondowoso.

    BalasHapus
  11. aku yo lagi pengen curhat Mas, lagi jenuh di kantor ... hiks

    BalasHapus
  12. Saya blogger curhat hehe...disetiap tulisannya saya kasih bumbu baper dan kadang ada bumbu motivasinya atau inspirasi.

    Tulisan dari Grace Melia sangat menginspirasi saya dan orang tua yang mempunyai anak dengan kebutuhan khusus harus baca tulisannya.

    www.geraldirizki.com

    BalasHapus
  13. Saya terharu mas, saya juga pernah baca blog yang judulnya kado untuk suamiku, isinya bener bener inspiratif, kisah nyata yang mengharukan. bahkan yang biasanya saya hanya membaca satu paragrappun saya membaca dengan tuntas pada blog tersebut.

    BalasHapus
  14. Ok...terkadang curhatan boleh juga masuk blog ya.. dan dominasi kaum hawa kuat banget disana. Tapi jadi terinspirasi untuk menulis hal yang sama seperti tulisan mas ihwan.. setidaknya untuk sebentar keluar dari rutinitas ngeblog ya..

    BalasHapus
  15. "Its not define you, its define him/her."
    A quote that I like!

    I think you remind me of Margie Warrell.
    "What story are your writing?"

    Inspiring!

    BalasHapus
  16. jangan kebanyakan curhat mas dan mengeluh..menambah beban pikiran, klo iklan rokok, enjoy aja :)

    BalasHapus
  17. Jadi ingat masa MP dulu.. semua isinya curhat.. blm kenal yang namanya endorse, dll.
    Thanks tulisannya mas Ihwan.. sementara curhatnya di buku dulu hehe.. baru kalau ada jalan keluar ato pencerahan saya tulis di blog..

    BalasHapus
  18. Kangen nulis curhatan juga kayak jaman MP dulu, tapi krn blog dimonetize jd ada jaimnya hehe

    BalasHapus
  19. astaga, aku salut sama tulisan ini. Apalagi dengan kisah Buwk Arni. sangat menginspirasi.

    BalasHapus