Welcome to our website !

Ihwan Hariyanto






“Besok bawa laptop nggak?”

“Bawa saja, biar nanti pas di apartemen kita tetap bisa ngetik.”

“Beneran ngetik lho ya, ntar kayak di hotel minggu lalu. Sudah bawa berat-berat eh ternyata hanya buat ngedit foto.”

“Lha kan tetap saja produktif namanya meski hanya ngedit foto buat di blog.”

“Iya deeh..”

Itulah sepenggal dialog saya dengan Mama Ivon ketika akan staycation di sebuah apartemen di Surabaya. Sebagai pasangan blogger yang produktif (uhuk-uhuk) kami memang selalu membawa laptop jika sedang stayction. Alasan utama agar kami tetap bisa menulis meskipun sedang liburan, karena namanya ide apalagi job datang tak kenal waktu. Sayang banget kan kalau mendadak ada ide atau tawaran job datang trus nggak segera ditangkap. Konsekuensinya, saya harus merasakan beban laptop yang cukup berat di pundak di sepanjang perjalanan.



Surabaya: Kota Industri Kreatif yang Inspiratif



Beberapa waktu yang lalu saya sekeluarga pergi wisata ke Pantai Kenjeran Lama dan Baru. Dari segi keindahan pantainya memang biasa saja bahkan kondisi pantai di Kenjeran Lama cukup membuat saya bergidik karena terlihat kotor dan kurang terawat. Namun untungnya, Kenjeran Lama masih tertolong oleh banyaknya penjual kerajinan yang terbuat dari kerang mulai dari hiasan dinding, tirai hingga bros cantik. Lalu ada juga penjual makanan khas pantai seperti keripik teripang dan aneka ikan laut lainnya.
Live to the Max dengan Menulis


Entah bagaimana kehidupan saya sekarang jika dulu saya tidak dikenalkan dengan majalah dan novel oleh mendiang ayah saya. Dulu ayah selalu membawakan majalah dan novel ketika pulang dari Surabaya. Kebetulan kami dulu menjalani rumah tangga jarak jauh, ayah bekerja di Surabaya sedangkan saya, kakak dan ibu tetap tinggal di Malang.



5 Kebiasaan Menjelang Lebaran


Menjelang Lebaran seperti sekarang ini, masyarakat Indonesia sudah disibukkan dengan beberapa kebiasaan guna menyambut lebaran. Jika ditelaah lebih lanjut, kebiasaan ini ternyata hanya dilakukan oleh masyarakat Indonesia saja. 



pesona ramadan di lombok sumbawa


“Lombok selain sebagai destinasi wisata juga dikenal sebagai Pulau Seribu Masjid karena sejauh mata memandang, maka kita bisa dengan mudah menemukan masjid. Nanti silakan Bapak dan Ibu lihat di sepanjang jalan yang kita lewati ada berapa masjid,” ujar Pak Agus, tour guide lokal yang menjadi pemandu kami ketika rombongan studi banding kami baru saja tiba di Lombok.


Sekarang ini banyak perdebatan yang ada di masyarakat yaitu antara sistem pembelian dengan cara online atau secara langsung. Dimana tentu saja keduanya mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Keduanya menawarkan berbagai barang yang bisa dibeli secara langsung ataupun secara online. Terutama untuk barang yang tahan lama dan diluar makanan yang cepat basi semuanya bisa dibeli baik secara online dan di toko konvensional. Selain barang-barang sekarang ini di toko online bahkan juga menawarkan jasa yang bisa dibeli dari belitiket pesawat di Bukalapak memesan ojek secara online, dan jasa lainnya.
Islamic Center Mataram: Menikmati Senja Langit Lombok


Lombok dijuluki sebagai Pulau Seribu Masjid karena kita akan dengan mudah menemukan masjid-masjid megah dan mewah di setiap desa di sepanjang perjalanan di pulau ini. Hal ini memang wajar mengingat mayoritas penduduknya adalah pemeluk Islam yang religius. Saya sendiri sebagai seorang muslim merasa tenang saat berwisata ke Lombok karena meskipun dikenal sebagai salah satu destinasi wisata yang populer namun kita dengan mudah menemukan masjid. Nah di antara ribuan masjid itu ada masjid yang disebut-sebut paling indah dan megah di Lombok yaitu Islamic Center Mataram.

Islamic Center Mataram: Menikmati Senja Langit Lombok




Islamic Center Mataram mulai dibangun sejak masa kepemimpinan gubernur M. Zainul Majdi, rencana tersebut terealisasi pada tahun 2011 dan diresmikan pada 15 Desember 2013. Islamic Center Mataram dibangun menggunakan dana yang bersumber dari APBD dan dana CSR PT. Newmont. Masjid yang didominasi warna kuning ini berdiri di atas lahan seluas 7,6 hektar di sudut jalan Langko dan Udayana yang merupakan jalur utama di kota Mataram. Selain sebagai penanda Kota Mataram, Islamic Center Mataram ini berfungsi sebagai pusat kebudayaan, wisata religi, pasar seni, dan aktivitas religius lainnya.

Saya langsung berdecak kagum ketika melihat Islamic Center Mataram untuk pertama kalinya, bangunannya begitu megah. Desain arsitekturnya  memadukan karakteristik bangunan tradisional Lombok dan Sumbawa. Perpaduan warna kuning, orange dan hijau begitu serasi sehingga membuat Islamic Center Mataram tampak indah dipandang mata.



Tak hanya megah dan indah, masjid ini juga mewah karena untuk naik ke bagian utama masjid disediakan eskalator sehingga kita tidak perlu khawatir kecapekan. Maklum saja bagian utama masjid ini memiliki ketinggian yang lumayan bila dibandingkan dengan halamannya. Karena belum masuk waktu maghrib maka saya dan beberapa teman kerja memutuskan untuk mengeksplorasi dulu bagian-bagian lain dari Islamic Center Mataram ini.

Menikmati Senja Langit Mataram dari Menara 99


Bangunan Islamic Center ini dilengkapi dengan sebuah Minaret (menara masjid) yang disebut Menara 99. Sesuai dengan namanya menara ini memeliki ketinggian 99 meter, yang diambil dari 99 nama-nama Allah (Asma’ul Husna). Jadi 99 ini bukan jumlah lantainya ya, nggak kebayang berapa tingginya jika menara ini memiliki 99 lantai.
Menara 99 terdiri atas 13 lantai dimana hanya ada beberapa lantai saja yang bisa dinaiki yaitu lantai 3, 6, 9 dan 13. Bangunan yang menjulang tinggi ini dibuka sebagai objek wisata untuk menikmati pemandangan wajah kota Mataram dari ketinggian 99 meter. Untuk naik ke menara dikenakan tiket masuk sebesar Rp.5000 per orang. Nantinya kita akan ditemani oleh satu petugas masjid yang akan memandu dan memberikan sedikit penjelasan tentang Menara 99.
Saat kami sudah berada di dalam lift, waktu sudah masuk jadwal sholat Maghrib. Sebenarnya Menara 99 dibuka hanya sampai pukul 5 namun mengingat kami datang jauh-jauh dari Malang maka diberikan dispensasi khusus hehehe.
Tujuan pertama kami adalah ke lantai paling atas yaitu lantai 13. Petugas yang mengantar kami bercerita dulu kecepatan lift ini membuat banyak pengunjung yang pusing bahkan mual, akhirnya kecepatan lift pun dikurangi seperti sekarang.



Mengingat posisinya yang paling atas dan riskan oleh bahaya angin dan ketinggian maka lantai 13 diselimuti oleh kaca tebal dan pagar pembatas. Alhasil kita hanya bisa melihat pemandangan kota Mataram dari balik kaca dan itupun tidak leluasa karena tertutupi oleh pagar pembatas yang lumayan tinggi. Ketika kami berada di lantai 13 ini, suara adzan Maghrib berkumdangan dengan syahdunya. Karena tidak ada yang bisa dinikmati maka kami pun masuk kembali ke lift untuk turun ke lantai 9.



Barulah di lantai 9 kami bisa mendapatkan pengalaman yang sebenarnya melihat pemandangan kota Mataram dari ketinggian. Yang saya maksud sebenarnya adalah kita bisa melihat langsung tanpa pembatas kaca sekaligus merasakan terpaan angin yang cukup kencang. Nggak kebayang gimana kencangnya angin di lantai 13 jika tidak ditutup dengan kaca. Saya jadi teringat Menara Asmaul Husna yang berada di Masjid Agung Jawa Tengah, Semarang. Angin di sana tidak sekencang di Islamic Center Mataram ini, mungkin karena lokasinya yang berada di kepulauan yang dekat dengan lautan.


Sebuah keberuntungan bagi kami karena saat berada di lantai 9 ini, matahari mulai tenggelam. Alhasil kami bisa menikmati pemandangan senja yang indah di langit kota Mataram. Sebuah pengalaman wisata religi yang tak terlupakan dimana kami menyaksikan fenomena alam yang indah dengan diiringi oleh kumandang suara adzan Maghrib. Begitu menggetarkan hati bagi siapa saja yang waktu itu berada di lantai 9.


Saking kencangnya angin, saya sampai harus memegang erat-erat smartphone ketika memotret pemandangan senja dan kubah Islamic Center Mataram yang tampak begitu dramatis dan religius. Kubah masjid ini memiliki motif Batik Sasambo, yang merupakan motif batik khas NTB. Karena suasana sudah semakin petang maka kami tak bisa berlama-lama di lantai 9, sayang juga sebenarnya karena saya masih ingin menikmati pemandangan senja di langit kota Mataram.


Islamic Center Mataram: Menikmati Senja Langit Lombok


Begitu turun dari Menara 99, kami segera menuju masjid untuk menunaikan sholat Maghrib. Fasilitas di Islamic Center Mataram ini sangat lengkap antara lain tempat wudlu, toilet dan tempat penitipan barang. Tempat wudhu pria terletak di halaman masjid, sedangkan toilet dan tempat wudhu wanita berada di dalam bangunan masjid.



Setelah ke toilet dan berwudhu saya segera menuju ke lantai utama dengan menapaki eskalator yang memberikan sentuhan modern dan mewah di Islamic Center Mataram ini. Bagian dalam dari masjid kuning ini ternyata tidak kalah indahnya. Kubah bagian dalam tetap menampilkan motif batik Sasambo dengan sentuhan Islami. Rasanya betah berada di dalam masjid ini, selain mengagumi keindahan arsitekturnya juga merasakan betapa religiusnya masyarakat Lombok.




kubah Islamic Center Mataram


Keindahan Islamic Center Mataram semakin mempesona manakala hari berganti malam. Kubah dan menara-menaranya bercahaya dengan terang di dalam gelapnya malam. Cahaya yang menyelimuti kubah dan menara itu berganti-ganti warna: merah, kuning, hijau, biru dan ungu. Melihat Islamic Center Mataram di malam hari seperti melihat masjid di negeri dongeng.

Keindahan Islamic Center Mataram di malam hari

Keindahan Islamic Center Mataram di malam hari

Keindahan Islamic Center Mataram di malam hari

Keindahan Islamic Center Mataram di malam hari

Itulah cerita wisata religi saya di Islamic Center Mataram. Jika Anda berwisata ke sana maka jangan lupa untuk tetap menjaga kesopanan dan menghormati norma-nroma yang berlaku di sana. Keberadaan Islamic Center Mataram menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan pencinta wisata religi yang ingin melihat kebesaran Islam di Pulau Seribu Masjid.





Referensi:
https://singgahkemasjid.blogspot.co.id/2016/04/islamic-center-mataram-nusa-tenggara.html
http://www.gomuslim.co.id/read/destinasi/2016/12/10/2533/berwisata-religi-ke-masjid-dengan-kubah-bermotif-batik-sasambo-di-pulau-lombok.html