Setiap tanggal 1 Mei, dunia memperingati Hari Buruh Internasional. Banyak yang memaknainya sebagai hari perjuangan hak pekerja, hari libur, atau bahkan sekadar tanggal merah di kalender. Namun bagi saya, seorang humas di perpustakaan Universitas Brawijaya sekaligus seorang ayah di usia 40-an, hari ini punya arti yang jauh lebih dalam.
Hari Buruh bukan hanya tentang mereka yang bekerja di lapangan dengan tenaga fisik. Ia juga tentang kami—yang bekerja dalam diam, di balik layar, menyusun kata, membangun citra, dan menjaga hubungan.
Di usia sekarang, cara saya memandang pekerjaan sudah berubah. Bekerja bukan lagi sekadar mengejar target, tapi tentang memberi makna.
Menjadi Humas Perpustakaan: Bekerja dalam Sunyi, Berdampak Nyata
Sebagai humas di perpustakaan, pekerjaan saya mungkin terlihat sederhana. Tidak ada sorotan besar, tidak selalu terlihat “heroik”. Tapi justru di situlah letak keindahannya.
1. Mengetik Berita: Merangkai Informasi Menjadi Inspirasi
Setiap hari, saya menulis berita tentang kegiatan perpustakaan. Dari acara literasi, kunjungan, hingga inovasi layanan. Sekilas terlihat seperti rutinitas biasa.
Namun di balik itu, ada tanggung jawab besar: memastikan informasi tersampaikan dengan benar, menarik, dan memberi dampak. Karena satu tulisan bisa menginspirasi seseorang untuk datang, membaca, bahkan mengubah cara pandangnya terhadap ilmu.
2. Ngonten: Menyampaikan Pesan dengan Cara yang Lebih Dekat
Di era digital, humas tidak bisa hanya mengandalkan tulisan formal. Konten menjadi jembatan baru untuk menjangkau audiens.
Saya membuat video, reels, dan konten media sosial agar perpustakaan terasa lebih dekat, lebih hidup, dan lebih relevan. Bukan sekadar tempat buku, tapi ruang bertumbuh.
3. Memotret: Mengabadikan Momen yang Bermakna
Kamera di tangan saya bukan hanya alat dokumentasi. Ia adalah cara untuk menangkap cerita.
Dari wajah mahasiswa yang serius belajar, hingga senyum pengunjung yang merasa terbantu—semua itu adalah bagian dari perjalanan yang layak diingat.
4. Menjaga Front Office: Wajah Pertama Pelayanan
Di front office, saya belajar satu hal penting: kesan pertama itu menentukan.
Menyapa dengan ramah, menjawab pertanyaan dengan sabar, dan membantu tanpa menghakimi—hal-hal kecil ini justru yang membuat perpustakaan terasa hangat dan manusiawi.
Di Balik Pekerjaan, Ada Peran yang Lebih Besar: Menjadi Ayah
Di usia 40-an, saya mulai menyadari bahwa pekerjaan bukan lagi pusat kehidupan. Ada peran lain yang jauh lebih penting: menjadi ayah dan suami.
Setiap pagi sebelum berangkat kerja, ada momen sederhana yang kini terasa berharga—menyiapkan sarapan, berbincang sebentar dengan anak, atau sekadar memastikan mereka baik-baik saja.
Dan setiap malam, setelah lelah bekerja, ada satu hal yang selalu saya tunggu: pulang.
Pulang bukan hanya tentang kembali ke rumah, tapi kembali ke alasan kenapa saya bekerja.
Makna Kerja di Usia 40-an: Bukan Lagi Tentang Ambisi
Dulu, mungkin saya bekerja untuk pencapaian. Untuk diakui. Untuk menjadi “lebih”.
Tapi sekarang, maknanya berubah.
Bekerja adalah tentang:
- Tanggung jawab terhadap keluarga
- Kontribusi terhadap lingkungan kerja
- Keteladanan bagi anak-anak
Saya ingin anak saya melihat bahwa ayahnya bekerja dengan jujur, dengan niat baik, dan dengan sepenuh hati.
Bukan pekerjaan yang harus terlihat besar, tapi sikap dalam menjalaninya yang harus berarti.
Hari Buruh Mengajarkan Satu Hal: Semua Pekerjaan Itu Mulia
Hari Buruh Internasional mengingatkan kita bahwa tidak ada pekerjaan yang benar-benar kecil.
Baik itu pekerja lapangan, karyawan kantor, tenaga administrasi, hingga humas seperti saya—semuanya punya peran.
Mungkin tidak semua terlihat. Tidak semua mendapat tepuk tangan. Tapi setiap pekerjaan adalah bagian dari roda besar yang membuat dunia tetap berjalan.
Dan sering kali, justru mereka yang bekerja dalam diamlah yang memberi dampak paling nyata.
Penutup: Dari Balik Layar, untuk Mereka yang Kita Cintai
Sebagai humas perpustakaan dan seorang ayah, saya belajar bahwa kerja bukan hanya tentang hari ini. Tapi tentang masa depan—tentang apa yang kita tinggalkan untuk orang-orang yang kita cintai.
Setiap kata yang saya tulis, setiap konten yang saya buat, setiap senyum yang saya berikan di front office… semua itu adalah bagian dari perjalanan.
Perjalanan menjadi manusia yang bermanfaat.
Di Hari Buruh ini, saya tidak ingin sekadar merayakan. Saya ingin mengingat.
Bahwa di balik lelah, ada makna.
Di balik rutinitas, ada tujuan.
Dan di balik pekerjaan, ada cinta yang terus diperjuangkan.
Selamat Hari Buruh Internasional.
Untuk semua yang bekerja—dengan cara mereka masing-masing.




Tidak ada komentar